Mengelola Cemas di Era Ketidakpastian: 3 Kunci Ketenangan Hidup lewat Filosofi Teras
- account_circle Anisa
- calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
- print Cetak

Mengelola Cemas di Era Ketidakpastian: 3 Kunci Ketenangan Hidup lewat Filosofi Teras. (Foto : Gemini AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KILASSANGGAU – Di tengah gempuran arus informasi media sosial dan ketidakpastian global, kesehatan mental kini menjadi isu yang sangat krusial. Tekanan dari standar usia hingga dinamika kondisi sosial sering kali memicu kecemasan yang berlebihan.
Menanggapi fenomena tersebut, konten kreator Akbar Abi membedah buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring sebagai solusi praktis untuk menjaga stabilitas emosional. Menurut Akbar Abi, kebahagiaan bukanlah sekadar perasaan yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah keterampilan (skill) yang harus dilatih secara sadar melalui ajaran Stoikisme.
Berikut adalah tiga poin utama dari Filosofi Teras untuk meraih ketenangan hidup:
1. Memahami Dikotomi dan Trikotomi Kendali
Kunci utama dari ketenangan adalah memahami perbedaan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak.
• Hal yang dapat dikendalikan: Opini pribadi, persepsi, keinginan, dan tindakan sendiri.
• Hal di luar kendali: Tindakan orang lain, opini publik, cuaca, hingga kondisi kelahiran.
Selain itu, terdapat konsep Trikotomi Kendali yang dikembangkan oleh William Irvine. Konsep ini menitikberatkan pada hal-hal yang sebagian berada dalam kendali kita, seperti hasil pekerjaan atau kesehatan. “Kita belajar untuk bertanggung jawab penuh pada upaya yang bisa dilakukan tanpa menggantungkan ketenangan hidup pada hasil,” ungkap Akbar Abi.
2. Mengendalikan Emosi dengan Teknik STAR
Filosofi Stoa mengajarkan bahwa emosi negatif muncul bukan karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena penilaian (judgment) manusia terhadap peristiwa tersebut. Sebagai contoh, terjebak kemacetan adalah peristiwa netral, namun reaksi marah muncul dari persepsi bahwa macet adalah sebuah kesialan.
Untuk melatih kendali emosi, Akbar Abi memperkenalkan teknik STAR:
• Stop (Berhenti): Jangan langsung bereaksi saat emosi negatif muncul.
• Think & Assess (Pikirkan & Nilai): Nilai apakah hal tersebut berada dalam kendali atau tidak.
• Respond (Tanggapi): Berikan respon yang bijak setelah pikiran menjadi lebih tenang.
3. Amorfati: Mencintai Nasib yang Terjadi
Konsep Amorfati mengajak seseorang untuk tidak hanya menerima, tetapi juga mencintai takdir yang sudah terjadi. Berandai-andai tentang masa lalu dianggap hanya akan mengikis kebahagiaan karena waktu yang telah lewat tidak dapat diubah kembali.
“Masa lalu itu sudah mati semati-matinya. Mau kita terus mengingatnya, terus berandai-andai, enggak akan ada yang bisa diperbaiki,” tegas Akbar Abi. Dengan menerapkan Amorfati, seseorang diharapkan fokus mengambil pelajaran berharga dari setiap kejadian daripada terus mempertanyakan kemalangan yang menimpa.
Menerapkan filosofi kuno di zaman modern bukan berarti bersikap pasrah. Sebaliknya, ini adalah upaya melatih ketahanan mental agar tidak mudah terpengaruh oleh gangguan luar yang sepele. Dengan fokus pada upaya mandiri, hidup akan terasa lebih bijak dan minim tekanan emosional.
- Penulis: Anisa
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: YouTube/Akbar Abi

Saat ini belum ada komentar